adaKah Energi Alternatif…///???

Penggunaan Energi Alternatif di Indonesia

Pendahuluan

Energi merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena hampir semua aktivitas manusia selalu membutuhkan energi. Misalnya untuk penerangan, proses industri atau untuk menggerakkan peralatan rumah tangga diperlukan energi listrik; untuk menggerakkan kendaraan baik roda dua maupun empat diperlukan bensin, serta masih banyak peralatan di sekitar kehidupan manusia yang memerlukan energi.

Kebutuhan energi di Dunia saat ini masih dipenuhi dengan bahan bakar fosil, yaitu : minyak, gas alam dan batu bara. Yang menjadi faktor pendorong konsumsi bahan bakar fosil yang semakin tinggi ini dipicu karena masih banyaknya penggunaan mesin industri dan transportasi penunjang yang umumnya masih menggunakan minyak bumi sebagai bahan bakar penggeraknya.

Data Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral juga menyebutkan bahwa cadangan minyak bumi Indonesia hanya cukup untuk 18 tahun ke depan, sementara cadangan gas bumi masih mencukupi untuk 61 tahun ke depan dan cadangan batu bara baru habis dalam waktu 147 tahun lagi.

Habisnya cadangan minyak bumi tak berarti akan menghentikan kebutuhan terhadap energi bahan bakar. Karena itu tidak sedikit upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan berbagai kalangan akademisi untuk mencari sumber energi alternatif lain. Banyak sumber-sumber energi lain yang mulai dimanfaatkan seperti gas, uranium, tenaga air, panas bumi, dan bioenergi, bahan bakar yang berasal dari bahan nabati.

Di Indonesia, pada dasarnya, sumberdaya energi memiliki dua fungsi, yakni sebagai pendorong pembangunan dan sebagai sumber devisa. Pertumbuhan ekonomi jelas sangat membutuhkan ketersediaan berbagai sumber daya alam di samping sumber daya manusia. Sumber daya energi merupakan salah satu sumber terpenting pendorong pertumbuhan ekonomi. Ia dibutuhkan setiap elemen masyarakat dalam menjalani aktivitas sehar-hari. Karena itu, keterbatasan sumber daya energi akan menjadi kendala yang dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi di kemudian hari.

Oleh karena itu diperlukan suatu strategi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia di masa mendatang. Upaya ini dapat dilakukan dengan melakukan program penghematan energi kepada seluruh masyarakat (konserfasi) maupun penggunaan sumber energi alternatif (diverifikasi).

Kondisi saat ini

Kondisi krisis bahan bakar minyak kini mengancam Indonesia. salah satu diantaranya adalah perilaku konsumen sehingga menyebabkan pertumbuhan konsumsi meningkat pesat hingga di atas 10 % per tahun. Salah satu cara untuk menekan pertumbuhan konsumsi BBM yaitu dengan melakukan penghematan energi ataupun dengan menggunakan energi alternatif. Hal ini dilakukan untuk menekan pertumbuhan BBM (bahan bakar minyak) meski Indonesia tercatat sebagai eksportir ternyata juga mengimpor minyak mentah dalam jumlah yang cukup besar, sehingga kondisi harga bahan mentah tinggi seperti saat ini.

Relatif besarnya ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi sebagai bahan energi mendorong pemerintah untuk mengembangkan kebijakan guna mencukupi kebutuhan energi nasional. Perpres No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional pemerintah memfokuskan kebijakan pada pencapaian sasaran kebijakan energi nasional. Kebijakan ini mensyaratkan pemanfaatan minyak bumi menjadi kurang dari 20%, gas bumi lebih dari 30%, batubara lebih dari 33%, bahan bakar nabati (biofuel) menjadi lebih dari 5%, panas bumi menjadi lebih dari 5%. Sementara, energi baru dan energi terbarukan lainnya, khususnya biomassa, nuklir, tenaga air, tenaga surya, dan tenaga angin menjadi lebih dari 5%, serta batubara yang dicairkan (liquefied coal) menjadi lebih dari 2%.

Kampanye hemat energi telah lama dilakukan, berbagai tayangan iklan dan kegiatan sosialisasi telah digelar. Namun mengubah pengetahuan dan kesadaran jelas tak semudah membalik telapak tangan. Upaya ini masih membutuhkan keterlibatan semua pihak dan kesediaan untuk mulai berhemat dalam penggunaan bahan bakar.

Di Indonesia, sumber utama energi di dalam negeri melulu masih bertumpu kepada jenis bahan bakar minyak, padahal banyak sumber energi alternatif lainnya yang dapat dimanfaatkan bahkan bisa mampu menggantikan peran energi fosil tersebut. Kementerian Riset dan Teknologi dan beberapa lembaga pemerintah non departemen di bawahnya salah satunya adalah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah lama mengembangkan berbagai teknologi yang mampu mensubstitusi BBM. Beberapa sumber energi yang dapat dipergunakan di antaranya adalah penggunaan bahan bakar batu bara, gas, energi angin, energi surya, panas bumi, biofuel termasuk di dalamnya biodiesel, bio etanol dan bio oil. Energi lainnya yaitu energi arus laut, fuel cell dan energi nuklir juga telah dikembangkan. Indonesia, merupakan satu dari banyak negara yang cenderung hanya memfokuskan pada penggunaan bahan bakar minyak, padahal negara-negara lain sudah mulai melakukan diversifikasi energi. Direktur Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi BPPT Unggul Priyanto mengatakan China merupakan contoh negara yang telah menggantikan penggunaan BBM dengan sumber energi alternatif yakni batu bara.

Energi Panas Bumi

Energi panas bumi adalah energi yang dihasilkan oleh tekanan panas bumi. Energi ini dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, sebagai salah satu bentuk dari energi terbaharui, tetapi karena panas di suatu lokasi dapat habis, jadi secara teknis dia tidak diperbarui secara mutlak.

Energi Panas Bumi di Indonesia, misalnya Jawa Barat memiliki potensi sumber daya alarn panas bumi yang luar biasa besar dan merupakan yang terbesar di Indonesia. Potensi panas bumi di Jawa Barat mencapai 5411 MW atau 20% dari total potensi yang dimiliki Indonesia. Sebagian potensi panas bumi tersebut bahkan telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik seperti:

  • PI-TP Kamojang di dekat Garut, memiliki unit 1, 2, 3 dengan kapasitas total 140 MW. Potensi yang masih dapat dikembangkan sekitar 60 MW.
  • PLTP Darajat, 60 km sebelah tenggara Bandung dengan kapasitas 55 MW
  • PLTP Gunung Safak di Sukabumi, terdiri dari unit 1, 2, 3, 4, 5, 6 dengan kapasitas total 330 M1K
  • PI-TP Wayang Windu di Pangalengan dengan kapasitas 110 MW.

Di luar negeri, pemanfaatan energi surya melalui sistem photovoltaic sudah berlangsung lama dan banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Di Indonesia, pengembangannya sudah dilakukan pada tahun 1980-an. Penerapan pertama pemanfaatan energi surya oleh Lembaga Elektronika Nasional (LEN) yang juga diresmikan oleh Presiden Soeharto di lakukan di Kec. Sukatani, Kab. Purwakarta pada 1989. Hanya, dalam perjalanannya, kebijakan pemanfaatan energi surya seperti setengah hati. Alasannya klise, skala kegiatan yang kurang ekonomis, sementara biaya investasi yang dibutuhkan sangat besar.

Bagaimanakah pengembangan energi surya untuk negara berkembang?

Menurut direktur satu-satunya perusahaan pembangkit listrik belanda, solland solar. Gosse Boxhorn, mereka telah melakukan uji coba di Indonesia tepatnya di desa Sukatani dan mereka berhasil menyediakan listrik untuk seluruh desa dari panel surya. Sistem kerja panel itu pun sangatlah sederhana. Pada setiap atap rumah penduduk ditaruh panel surya berukuran kecil. ‘Ini menghasilkan cukup listrik untuk bisa dipakai pada malam hari’, kata Boxhoorn.Sedikit listrik berhasil membuat perubahan besar. Radio dan televisi bisa masuk desa. Sekolah juga bisa buka malam hari. Desa-desa dengan panel surya mengalami perkembangan ekonomi. Demikian menurut Gosse Boxhoorn, berdasarkan pengamatannya.

Panel surya adalah keajaiban kecil. Hanya dibutuhkan lempengan-lempengan besi, atau bahan lain yang mengkilat, berukuran mini untuk mengubah tenaga surya menjadi listrik. ‘Sinar matahari yang jatuh ke panel akan menimbulkan percikan listrik. Aliran listrik ini bisa ditampung’, jelas Boxhoor. Namun demikian, produksi panel surya sangat pelik. Proses pembuatan panel terdiri dari berpuluh-puluh tahap. Semuanya harus dilakukan dengan tingkat akurasi yang tinggi. Semua ini untuk menghasilkan satu panel surya yang mampu menyerap sebanyak mungkin sinar matahari.

Peliknya proses produksi mengakibatkan mahalnya panel surya. Ini menjadi masalah dalam upaya memperkenalkan teknologi pembangkit listrik ini dalam skala besar. Tapi, menurut Boxhoorn, meningkatnya permintaan pasar atas tenaga surya akan merubah keadaan ini. Pasar panel surya tumbuh 40 persen tiap tahunnya. Diperkirakan dalam sepuluh tahun ke depan biaya produksi listrik tenaga surya di Belanda akan turun di bawah 20 sen Euro per kilo watt listrik. Di negara dunia ketiga, yang mendapatkan lebih banyak sinar matahari, penurunan harga akan terjadi lebih cepat lagi.

Menurut Profesor Laurens Siebeles dari Technische Universiteit, TU, Delft, Belanda, kita tidak usah bergantung pada mekanisme pasar. Ada cara lain yang lebih murah untuk menghasilkan panel surya. Ia dan para peneliti lain tengah berupaya keras menciptakan panel surya yang lebih murah dan baik.Cara yang pertama adalah dengan menggunakan bahan murah, misalnya plastik. Bahan ini mungkin akan menghasilkan lebih sedikit listrik. Tapi, karena bahannya murah bisa dibuat sebanyak mungkin panel surya. Jadi, akan dihasilkan banyak listrik juga.

Alternatif lain adalah dengan mengembangkan generasi panel surya berbahan dasar nano-kristal. Kristal-kristal kecil yang mengkilap ini bisa menangkap dan menahan sinar matahari. Sinar yang terperangkap di dalam kristal terus bergerak sehingga bisa menghasilkan energi listrik.

Energi Listrik Tenaga Ombak

Energi ombak adalah energi alternatif yang dibangkitkan melalui efek osilasi tekanan udara (pumping efect) di dalam banunan chamber (geometri kolom) akibat fluktuasi pergerakan gelombang yang masuk ke dalam chamber.

Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua setelah Norwegia. Sayangnya potensi energi pantai yang ada belum banyak dimanfaatkan. hal ini membuat Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tergerak mengembnagkan dan memanfaatkan potensi energi terbarukan, berupa angin, omba dan energi surya untuk menjawab kebutuhan energi listrik.

Model yang dikembnagkan di Parang Racuk Technopark untuk menjawab tantangan itu, kita membuka ilmuan dari berbagai bidang di Indonesia memanfaatkan kawasan sesuai minatnya, ini yang pertama di Indonesia kata kepala BPPT Said D Jenie.
Di kawasan seluas 12 hektare yang ada disepanjang pantai itu kini telah hadir beberapa perangkat teknologi pembangkit listrik terbarukan yaitu Oscillating Water Column (OWC) dengan biaya pengembangan Rp2,5 miliar yang mengubah energi ombak menjaaadi energi listrik. Selain itu telah terpasang juga pembangkit tenaga bayu (angin) berupa kincir angin serta panel sel surya untuk mengolah energi listrik dari matahari.

Di Indonesia energi arus laut memberikan harapan yang besar untuk dapat digunakan sebagai sumber energi bagi penyediaan listrik. Letak Indonesia yang berada di antara dua samudera yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia menyebabkan Indonesia sebagai pertemuan antara kedua arus yang terjadi. Banyaknya pulau dan selat di Indonesia mengakibatkan terjadinya percepatan arus laut akibat interaksi antara bumi-bulan-matahari ketika melewati selat-selat tersebut. Kendala penerapan arus laut untuk pembangkit listrik antara lain:

  1. Sumber arus laut di Indonesia sangat spesifik dan tidak bisa disamakan dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, sehingga memerlukan riset yang lebih mendalam.
  2. Output-nya mengikuti grafik sinusoidal sesuai dengan respons pasang surut akibat gerakan interaksi Bumi-Bulan-Matahari. Pada saat pasang purnama, kecepatan arus akan deras sekali, saat pasang perbani, kecepatan arus akan berkurang kira-kira setengah dari pasang purnama.
  3. Biaya instalasi dan pemeliharaannya sangat mahal. Dua permasalahan terakhir dapat diatasi dengan menyetel peralatan pada saat arus laut paling kecil, dan perbaikan pada desain sistem turbin, roda gigi, dan sistem generator yang dapat bertahan dalam waktu yang lama (sekitar 5 tahun) tanpa perawatan khusus.

Energi Angin

Pada saat ini masalah yang dihadapi oleh penduduk dunia dalam penggunaan energy yang tidak dapat diperbaharui (minyak bumi, gas alam, batubara) secara global adalah meningkatnya rata-rata suhu di permukaan bumi sebesar 1,4 – 5,80C yang disebabkan oleh emisi dari carbon dioxide dan efek gas rumah kaca.

Untuk menghadapi tantangan perubahan iklim secara global dan memenuhi naiknya permintaan akan energi serta untuk mengamankan supply energy di masa yang akan datang, maka mulai dikembangkan konsep “renewable energy” yang salah satunya adalah energi angin. Energy angin adalah salah satu power technology yang paling efektif dan sudah siap di install secara global dalam skala besar guna menghadapi tantangan-tantangan yang ada. Pembangkit listrik tenaga angin dapat di install lebih cepat jika dibandingkan dengan pembangkit listrik konvensional yang sudah ada.

Pemanfaatan tenaga angin sebagai sumber energi di Indonesia bukan tidak mungkin dikembangkan lebih lanjut. Di tengah potensi angin melimpah di kawasan pesisir Indonesia, total kapasitas terpasang dalam sistem konversi energi angin saat ini kurang dari 800 kilowatt. dengan wilayah pantai terpanjang di dunia, maka dimungkinkan untuk hal ini dilakukan. Dengan dimanfaatkannya tenaga angin maka, kebutuhan energi listrik yang berasal dari minyak bumi sebagian dapat dikurangi.

Dalam beberapa tahun kedepan Indonesia akan memproduksi komponen kincir angin berupa wind tower (towernya saja), yang saat ini pabriknya sedang dibangun di daerah Cilegon Banten. Pabrik ini akan mempunyai kapasitas 600 unit Wind Tower per tahun. Dengan adanya pabrik yang memproduksi wind tower tersebut, membuat peluang Indonesia untuk mengembangkan tenaga angin semakin besar. Alangkah sayangnya wind tower yang kita produksi hanya diprioritaskan untuk pasar luar negeri, dengan alasan bahwa kecepatan angin di Indonesia relatif kecil. Untuk itu merupakan tantangan bagi para akhli tenaga angin dan institusi penelitian energi Indonesia agar lebih bekerja keras untuk energi alternatif ini. Setiap peluang untuk penghematan atau pengurangan energi fosil sangat berarti bagi Indonesia untuk jangka panjang.

Menurut Nenny Sri Utami dalam pidatonya pada seminar Teknologi dan pemanfaatan Energi Angin sebagi peluang ush baru di Bogor (rabu 28 mret 200 8) mengatakan bahw: ”Kecepatan angin di wilayah Indonesia umumnya di bawah 5,9 meter per detik yang secara ekonomi kurang layak untuk membangun pembangkit listrik. Namun, bukan berarti hal itu tidak bermanfaat.”

Di seluruh Indonesia, lima unit kincir angin pembangkit berkapasitas masing-masing 80 kilowatt (kW) sudah dibangun. Tahun 2007, tujuh unit dengan kapasitas sama menyusul dibangun di empat lokasi, masing-masing di Pulau Selayar tiga unit, Sulawesi Utara dua unit, dan Nusa Penida, Bali, serta Bangka Belitung, masing-masing satu unit.

Menurut Kepala Subdirektorat Usaha Energi Baru dan Terbarukan Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) ESDM Kosasih Abbas, mengacu pada kebijakan energi nasional, maka pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) harus mampu menghasilkan 250 megawatt (MW) pada tahun 2025.

Salah satu program yang harus dilakukan sebelum mengembangkan PLTB adalah pemetaan potensi energi angin di Indonesia. Hingga sekarang, Indonesia belum memiliki peta komprehensif, karena pengembangannya butuh biaya miliaran rupiah.

Potensi energi angin di Indonesia umumnya berkecepatan lebih dari 5 meter per detik (m/detik). Hasil pemetaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) pada 120 lokasi menunjukkan, beberapa wilayah memiliki kecepatan angin di atas 5 m/detik, masing-masing Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Pantai Selatan Jawa.

Energi Nuklir atau Batu Bara

Sepertinya manusia memilih batubara sebagai sumber energi masa depan. Secara presentase porsi yang diambil pun tidak terlalu banyak tetapi karena jumlah keseluruhan meningkat maka jumlah yang dibutuhkan juga semakin besar. Kalau tahun 2003 batubara dan gas sama-sama hanya mengisi 24%, nantiya pada tahun 2015 dan tahun 2030 gas alam meningkat menjadi 25% dan 26%, sedangkan gas meningkat menjadi 26% dan 27%.

Kalau diproyeksikan kebutuhan listrik dunia maka dapat diperkirakan bahwa kebutuhan listrik 25 tahun mendatang meningkat seperempat dari yang ada saat ini. Kebutuhan ini dapat terlihat dari grafik diatas terlihat dimana nantinya diperkirakan sumber energi nuklir tidak akan bertambah banyak. Sumber energi lainnya akan bervariasi mengisi sumber energi ini. Variasi pengisi sumber energi listrik dimasa depan termasuk mnyak bumi dan nuklir yang tidak berubah. Gas serta batubara diperkirakan akan mengisi kekurangan yang cukup besar ini. Energi terbarukan masih diimpikan untuk ikut berkiprah dalam memenuhi kebutuhan sumber energi. Sumber terbarukan ini saat ini masih selalu terbentur teknologi yang artinya biaya yang cukup tinggi dalam pengadaannya.

Dari kedua jenis energi yang saat ini ditakutkan efek rumahkacanya. Memang gas alam akan banyak kesempatan untuk dipakai namun jumlah cadangan gas alam tidak lebih bagus dari batubara yang cadangan terbuktinya saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan selama 200 tahun. batubara sempat ditinggalkan karena pasarannya kemarin sempat “diserobot” oleh minyak bumi yang menggantikannya sementara. Minyak bumi mungkin memang masih akan tetap penting hingga 15-20 tahun. Namun sepertinya sudah dipastikan tidak bakalan mampu memenuhi kebutuhan energi dunia.

Nuklir memiliki dampak emisi rumah kaca paling kecil diantara sumber-sumber energi lainnya. Namun ketakutan atau bahkan phobia pada kecelakaan serta limbah energi nuklir masih sangat menghantui. Energi ini memang masih dianggap membahayakan bahkan sangat membahayakan. Selain itu ongkos modal dalam pembiayaan pembangunannya sangat besar yang sangat sulit dilakukan oleh negara-negara berkembang dan pastinya termasuk Indonesia. Penjelasan lebih jelas tampak pada gambar dibawah ini.

(a)

Kondisi Ideal (Studio Literature)

Sesuai dengan teori perilaku konsumen, tujuan konsumen yaitu untuk mencapai kepuasan maksimum. Asumsi utama diantaranya:

  1. Commodities: makin banyak barang yang dikonsumsi makin besar manfaatnya
  2. Utility (manfaat) digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan konsumen (Total utility dan marginal utility)
  3. The law of deminishing marginal utility (sebagai upaya untuk mengurangi nilai marginal utility)
  4. Transitivity (konsistensi preferensi), bila barang X lebih disukai dari Y dan y lebih disukai dari Z maka X lebih disukai dari Z.
  5. perfect knowledge , konsumen memiliki pengetahuan yang sempurna terhadap keputusan konsumsinya.

Dalam energi alternative implementasinya dapat diuraikan dibawah ini :

* Energi Panas Bumi

Sebagai negara tropis, Indonesia mempunyai potensi energi surya yang cukup besar. Berdasarkan data penyinaran matahari yang dihimpun dari 18 lokasi di Indonesia, radiasi surya di Indonesia dapat diklasifikasikan berturut-turut sebagai berikut: untuk kawasan barat dan timur Indonesia dengan distribusi penyinaran di Kawasan Barat Indonesia (KBI) sekitar 4,5 kWh/m 2 /hari dengan variasi bulanan sekitar 10%; dan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sekitar 5,1 kWh/m 2 /hari dengan variasi bulanan sekitar 9%. Dengan demikian, potesi angin rata-rata Indonesia sekitar 4,8 kWh/m 2 /hari dengan variasi bulanan sekitar 9%.

Untuk memanfaatkan potensi energi surya tersebut, ada 2 (dua) macam teknologi yang sudah diterapkan, yaitu teknologi energi surya termal dan energi surya fotovoltaik. Energi surya termal pada umumnya digunakan untuk memasak (kompor surya), mengeringkan hasil pertanian (perkebunan, perikanan, kehutanan, tanaman pangan) dan memanaskan air. Energi surya fotovoltaik digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik, pompa air, televisi, telekomunikasi, dan lemari pendingin di Puskesmas dengan kapasitas total ± 6 MW.

* Energi Listrik Tenaga Ombak

Untuk wilayah Indonesia, energi yang punya prospek bagus adalah energi arus laut. Hal ini dikarenakan Indonesia mempunyai banyak pulau dan selat sehingga arus laut akibat interaksi Bumi-Bulan-Matahari mengalami percepatan saat melewati selat-selat tersebut. Sumber energi yang terbarukan dari laut adalah energi gelombang, energi yang timbul akibat perbedaan suhu antara permukaan air dan dasar laut (ocean thermal energy conversion/OTEC), energi yang disebabkan oleh perbedaan tinggi permukaan air akibat pasang surut dan energi arus laut.

* Energi Angin

Beberapa dekade yang lalu telah dikembangkan pembangkit listrik tenaga angin, dengan memanfaatkan tenaga angin untuk menggerakkan generator listrik. Teknik ini diilhami oleh penggunaan tenaga angin di Belanda dengan menggunakan kincir angin untuk memecahkan biji-bijian. Penggunaan tenaga surya yang ditampung dalam panel surya untuk pembangkit listrik juga pernah diujicobakan. Dalam skala kecil dan terutama untuk daerah yang terpencil penggunaan energi angin dan tenaga surya untuk pembangkit listrik bisa menjadi alternatif solusi yang baik. Walaupun secara teknis memungkinkan, tetapi penggunaan sumber daya dari angin dan tenaga surya tidak disarankan untuk pembangkit listrik dalam skala besar. Hal ini disebabkan penggunaan tenaga angin dan surya dalam skala besar dirasa kurang efisien untuk menggerakkan generator listrik.

* Energi Nuklir atau Batu Bara

Energi yang dapat dengan cepat menggantikan posisi bahan bakar minyak adalah batu bara dan gas, karena kedua sumber bahan bakar ini memiliki kemiripan fungsi dengan minyak bumi. Namun, tidak serta merta dua bahan bakar itu dapat langsung dimanfaatkan.Gas alam, misalnya, membutuhkan sarana pendistribusian yaitu pipa gas, dan itu baru dibangun di beberapa lokasi saja, belum lagi keterikatan kontrak dengan pihak asing itu juga menjadi satu persoalan. Sementara untuk batu bara hanya dapat dimanfaatkan untuk industri saja, karena penggunaanya yang sulit sehingga tidak ideal untuk dimanfaatkan bagi rumah tangga.

Komentar/Saran

Energi merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena hampir semua aktivitas manusia selalu membutuhkan energi. Misalnya untuk penerangan, proses industri atau untuk menggerakkan peralatan rumah tangga diperlukan energi listrik; untuk menggerakkan kendaraan baik roda dua maupun empat diperlukan bensin, serta masih banyak peralatan di sekitar kehidupan manusia yang memerlukan energi.

Kebutuhan akan energi dalam tahun kedepan akan semakin meningkat untuk itu energi alternatif diperlukan sebagai cadangan energi mengingat energi fosil misalnya minyak bumi yang semakin berkurang, bisa jadi energi fosil dalam tahun-tahun kedepan tidak dapat memenuhi kebutuhan energi dunia. Dan konsumsi terhadap energi fosil ini juga sangat banyak , konsumen cenderung lebih memilih energi ini diperkirakan karena sudah menjadi tradisi dalam penggunaan energi yang sering digunakan, misalnya minyak tanah pada rumah tangga. tapi belum tentu menjamin kedepannya nanti energi fosil dapat memenuhi kebutuhan energi.

Untuk itu energi alternatif sangat diperlukan untuk pemenuhan energi tersebut, meski pada akhirnya Indonesia juga tidak menangani pengolahan energi alternatif tersebut karena kurangnya peralatan dan sangat memakan biaya yang besar. Namun pada akhirnya juga energi alternatif perlu dikembangkan untuk membatasi penggunaan energi fosil tersebut.

Daftar Pustaka
· rovicky.wordpress.com/2007/05/05/dunia_memilih/ Apakah dunia memilih batubara dan gas alam sebagai sumber energi ? Energi masa depan – Nuklir atau Batubara
· www.Indonesia.go.id ”bioenergi dn kebutuhan energi Nasional”
· Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. ”energi alternatif dan kemauan politik pemerintah”
· Yanpraz.multiply.com ”ketahanan energi dan national competitiveness”.
· Clearinghouse energi terbaruka dan konservasi energi. Energi surya, energi panas bumi Indonesia.
· www.ristek.go.id”energi listrik tenaga ombak”
· Copyright © 2002-2008 LIPI, All Rights Reserved
Energi Surya untuk Negara Berkembang” ,Sumber Energi Arus : Alternatif Pengganti BBM, Ramah Lingkungan, dan Terbarukan” .
· didika.blog.com/Pengembangan Energi Angin Memungkinkan”

Tulis sebuah Komentar